Manisnya Laba Lampu Hias Mote

Siapa bilang untuk mendapat omzet hingga ratusan juta rupiah harus bermodal besar? Tanyakan kepada Holim Ansori, pengrajin lampu hias rumahan yang sukses menangguk omset menggiurkan hanya bermodal awal Rp1 juta. Di tangannya, pria paro baya asal Surabaya, Jawa Timur ini mampu menghasilkan ragam model lampu hias di bawah bendera ‘Star Art’.

Ide kreatif Holim Ansori dimulai sejak tiga tahun yang lalu, bermodalkan keahlian seni yang dia miliki, Ansori memanfaatkan biji mote dengan berbagai warna yang ditempel pada plastik mika sebagai pola dasarnya. Sebelum biji mote ditempelkan pada plastik mika, plastik terlebih dahulu dibentuk sesuai dengan model yang diinginkan, misalnya mengambil bentuk bintang, bulan, pot bunga dan lain-lain. Karena bahan dasar plastik mika sedikit sulit untuk dibentuk, maka diperlukan kawat kecil sebagai kerangka dasarnya. Sementara untuk merekatkan biji mote dengan mika, Holim biasa menggunakan lem merek fox. Lem merek fox memang sudah dikenal dimasyarakat kita, lem ini sering pula dipakai untuk lem kayu dan lem yang lainnya.

”Sejak kecil saya memang suka melukis, membentuk sesuatu dari kertas. Kemampuan itu pun langsung saya terapkan untuk menciptakan produk ini sejak 2005 yang lalu,” ujar Holim saat ditemui WartaOne di Pameran Inacraft 2009 di Jakarta Convention Center, April lalu.

Holim mengaku saat ini belum ada pesaing dalam lampu hias mote dan mika. “Setiap orang punya keahlian masing-masing. Jika saya membuat lampu hias dari mote dan mika, yang lain punya variasi bahan baku sendiri. Misalnya untuk perajin di Bandung dan Jogya, mereka kebanyakan memakai kain sebagai bahan dasarnya,” jelasnya.

Untuk memasarkan produknya, Holim masih menyasar konsumen lokal di hampir sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya kalangan ekonomi menengah atas.

Namun belakangan Holim mengaku mendapat permintaan dari pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura serta negara lainnya. Sayangnya untuk pasar luar negeri, Holim mengaku sedikit kesulitan untuk merealisasikannya. Persyaratan ekspor dengan berbagai macam persyaratan belum dipahami betul bapak asal Surabaya ini.

Selain membuatkan produk sesuai variasi dan model sendiri, Holim juga terbuka pada pemesanan produk, sepanjang harganya cocok.

Untuk pelanggan yang melakukan pemesanan produk dianjurkan untuk membayar uang muka sebanyak 50% dari total nilai pesanan. Setelah produk jadi semuanya, diharapkan pelanggan segera melunasi sisanya sehingga produk bisa dikirim semuanya.

Selama dua hari mengikuti pameran, omzet yang berhasil diraup Holim sekitar Rp 10 juta. "Niat saya ikutan pameran bukan semata agar produk laku, tapi yang terpenting saya ingin meluaskan pasar. Terbukti saya berhasil mendapatkan pembeli dari Singapura, rencananya dia akan mengambil produk dalam jumlah yang besar,” imbuhnya.

Harga produk lampu hias Star Art bervariasi mulai Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per buah tergantung ukuran dan model atau tingkat kesulitan pengerjaan. Dari sekian produk, yang saat ini paling laris dan terus diburuh orang adalah lampu hias model bintang dan bulan.

0 comments:

Copyring Indonesia Raya